Kata-Kata Bijak Aceh Untuk Indonesia

Kata-Kata Bijak Aceh Untuk Indonesia


Orang Aceh dapat dibunuh, tetapi tak dapat ditaklukkan. "Ungkapan menggugah dan menohok ini penulis kutip dari buku Perang Aceh (Aceh Orloog) Karangan seorang Belanda, Van de Vier. Pada waktu bersamaan, Penulis menyimak pepatah Aceh, "Tembaklah hati orang Aceh, jangan tembak kepalanya."

.....Aceh adalah topik 'anak salah asuh' Anak yang ditipu, ditelantarkan, dan dikerasi sejak bayi hingga dewasa. Anak itu tumbuh dengan luka yang mencabik tubuh dan jiwanya. Ia menjadi tidak betah, dan mulai membalas tekanan di dalam lingkungan keluarga keindonesiaannya.

Sebelumnya, anak itu telah mencoba mengingatkan bahwa saya ini orang yang berguna. Saya punya jasa besar ketika keluarga republik ini dibangun pada awal kemerdekaan dulu. Saya punya hasil alam yang melimpah hingga mampu menolong anggota keluarga lain di tanah air atau bahkan lebih dari cukup untuk berfoya-foya dan dikorup secara bersahaja.

Anak itu berteriak, minta dikasihi, minta agar semua jasa itu tidak dibalas dengan sorot mata curiga atau moncong senjata. Ia minta dimanusiakan sebagaimana layaknya manusia.

Tapi entah siapa yang kerasukan. Dalam pandangan keluarga keindonesiaannya, Aceh tetap dianggap anak nakal. Anak tersebut tambah tertekan. Ia melihat gemerlap industri minyak dan gas dalam keadaan perut kosong. Ia hidup di antara moncong senjata dan sepatu laras yang menebar rasa takut. Ia juga melihat sudah ada rumah bordil atau restoran remang-remang di kampungnya nan miskin, bahkan hanya beberapa ratus meter dari masjid atau tempat anak-anaknya mengaji. Anak itu stres!

Di Jakarta, pimpinan keluarga mengundang sejumlah dukun (baca ahli-pen) untuk "menjinakkan" anak nakal ini. Kesimpulannya; terapi dengan sandi "operasi jaring merah".

Di mana-mana jaring itu dipasang secara rapi, dan dikawal secara profesional dengan moncong senjata segala. Mulailah anak-anak negeri itu terjaring oleh tangan-tangan bengis keluarganya sendiri. Entah berapa banyak di antaranya yang mati dan ditumpuk dalam kuburan massalWatusan hilang tanpa bekas. Ribuan yang latnnya menderita cacat fisik dan mental secara permanen. Sementara para wanita menangisi kehor-matannya yang terengut. Anak itu diperlakukan bak musuh!

Anak itu tambah tertekan di tengah perilaku aneh keluarganya. Dengan sendu ia berbisik pada orang-orang yang masih mau mendengarnya, «Bukan kami ingin berpisah, tapi kok susah sekali sih bergabung dengan keluarga republik ini?»

Agustus 1998, jaring itu dicabut. Anak produk kekerasan ini berusaha bangkit di antara puing-puing kehancuran fisik, jiwa, bahkan martabatnya. Mereka bertertak dijalanialan, di forum-forum, atau pada siapa pun di jagad ini, meminta keadilan. Mereka berharap agar siapa pun yang bertindak tidak adil terhadap keluarganya sendiri, agar hukum itu tegak.

Sayang, para dukun di Jakarta masih seperti yang dulu. Mereka masih percaya pada senjata dan melihat tuntutan keadilan itu sebagai sesuatu yang tidak patut. Maka, keluarlah berbagai argumen yang menambah bingung si Aceh. Jakarta kok tega banget.

Kata-Kata Bijak Aceh Untuk Indonesia
Daripada tanggung-tanggung, minta merdeka sekalian. Kali ini dengan suara lebih keras, bahkan letupan senjata. Bahasa bedil dijawab dengan bedil, sepatu laras atau patroli dijawab dengan mengungsi. Semuanya sudah menjadi serba tanggung. Sebagian anak-anak produk kekerasan itu sudah memilih; keluar dari rekatan keluarga republik ini, meski siapa pun tahu bahwa dulu rumah bersama yang bernama Indonesta itu dibangun dengan harta, jiwa, dan air mata bersama pula. Selamat tinggal republik!
Penulis: Syarifudin Tippe
Aceh di Persimpangan Jalan