Latar Belakang Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda


Perjuangan Melawan Penjajah 

Pada mulanya Belanda tidak dapat berbuat apa-apa Aceh, Berawal dari Sejarah  terhadap Aceh, sebab Traktat London (1824) menyebutkan bahwa Belanda harus menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh. Namun beberapa puluh tahun kemudian, Belanda berhasil membawa Inggris ke meja perundingan hingga tercapailah perjanjian 1871 yang terkenal dengan Traktat Sumatera. Traktat itu antara lain menyebutkan bahwa Belanda bebas memperluas kekuasaannya di seluruh Pulau Sumatera. Karena tu, tak ada lagi kewajiban bagi Belanda untuk menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh sesuai dengan Traktat London.

Kerajaan Aceh merasa terancarn dengan Traktat Sumatera ini. Sebagai kerajaan yang berdaulat, Aceh merIcari bantuan dari negara-negara yang dianggap bersahabat dengannya. Pada tengah kedua abad XIX ini, Aceh tidak lagi sekuat beberapa abad sebelumnya. Jika dalam politik luar negeri Aceh tangguh menghadapi Portugis pada abad 16 dari 17 serta merupakan kerajaan pertama di Asia yang pada tahun 1601 mengirimkan dutanya kepada Kerajaan Belanda, maka pada tahun 1870 Aceh tidak lagi merupakan kerajaan yang kuat.

Pada September 1871, Belanda membuat kebijaksanaan baru, yakni mengganti politik tidak campur tangan dengan politik tanpa agresi. Ini ditujukan untuk melindungi siapa yang perlu dilindungi dan untuk memperkukuh kedudukan Belanda yang dianggap memiliki hak di Sumatera. Pada tahun 1871 Belanda mengirimkan kapal Jambi ke perairan Aceh untuk menyelidiki ujung-ujung pantai, untuk mendirikan menara api di pantai yang disinggahi, dan meneliti kedangkalan perairan di pantai. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui keadaan politik di daerah ini. Sebuah kapal juga dikirimkan ke Selat Malaka untuk memberantas bajak laut dan memperlihatkan kekuatannya di beberapa pantai di Aceh Utara.

Hal-hal tersebut tidak menyenangkan kerajaan Aceh dan dapat dipahami mengapa utusan Belanda yang berkunjung tidak diterima oleh elit politik Kerajaan Aceh. Dalam pertemuan di geladak kapal Jambi pada 27 September 1871,

Habib Abdurrahman sebagai Perdana Menteri menyatakan bahwa jika Belanda ingin bersahabat dengan Aceh, hendaknya dimulainya dari Kerajaan Aceh, yaitu Sibolga, Barus, Singkel, Pulau Nias, dan kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur sampai ke Aceh. 

Pada tahun 1872, Raja Trumon Aceh Barat dan Raja Idi Aceh Tirnur mengakui kedaulatan Belanda. Selain itu, pada September 1872 pihak Belanda menahan sebuah kapal Aceh Gipsy yang dituduh merampok. Ketegangan semakin mencekam antara Belanda dengan Aceh. Akibatnya, utusan Belanda datang lagi pada Mei 1872, namun gagal menghadap Sultan dan pembesar-pembesar Aceh. 

Pada Oktober 1872, Pemerintah Hindia Belanda menya-takan keinginannya kepada Sultan Aceh untuk mengirimkan sebuah komisi yang diketuai oleh residen Riau untuk menyelesaikan beberapa hal yang menyangkut kepentingan kedua belah pihak. 

Pada Desember 1872, Sultan menjawab kepada residen Riau melalui sebuah perutusan yang diketuai oleh panglima Tibang Muhammad agar perutusan Belanda menunda kedatangannya beberapa bulan. Alasannya, Kerajaan Aceh sedang menunggu hasil kunjungan utusannya yang menghadap Sultan Turki. 

Dalam perjalanan kembali dari Riau pada 25 Januari 1873, utusan Aceh singgah di Singapura dan mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia. Konsul Amerika meminta kepada utusan Aceh untuk mempersiapkan sebuah konsep kerjasama sederajat antara Amerika dengan Aceh untuk menghadap ancaman Belanda. 

Setelah mengetahui kejadian ini, Konsul Belanda di Singapura mengabarkan kepada pemerintah Hindia Belanda, bahwa konsul-konsul Amerika dan Italia menyokong dan membantu Aceh. Akibatnya pada 18 februari 1873, Pemerintah Hindia Belanda di Eropa memerintahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, untuk mengirim Angkatan Laut ke Aceh. Adanya angkatan lain yang hendak memainkan peranan di Sumatera mengkhawatirkan Belanda. 

Takut akan kelanjutan hasil perundingan di Singapura intara Aceh dengan Amerika, Belanda pun reaktif. Setelah diperoleh berita bahwa sebuah skuadron Angkatan Laut Amerika di bawah Admiral Jenkins berangkat pada 1 Maret I 873 dari Hongkong ke Aceh, FN. Nieuwenhuyzen, Wakil Presiden Dewan Hindia, diangkat sebagai Komisaris Pemerintah. 

Ia ditugaskan di Aceh untuk menuntut penjelasan mengenai keterlibatan utusan Aceh selama berada di Singapura serta mengusahakan agar Sultan Aceh mengakui kedaulatan Belanda. Jika Sultan Aceh menolak, Nieuwenshuyzen bakal mengemumkan perang atas nama Gubernur Hindia Belanda. 
Rakyat Aceh yang sangat fanatik terhadap Islam bangkit melawan penjajah Belanda. Seruan jihad dikeluarkan oleh ulama Aceh dan disambut oleh rakyat dengan gegap gempita. 
Latar Belakang Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda
Udep saree mate syahid menjadi moto perjuangan ketika itu yang  berarti hidup mulia (atau) mati syahid. Pihak Aceh mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan agresi dari luar. Sejak Agustus 1872 hingga Maret 1873, Aceh memasukkan 5.000 peti mesiu dan 1.349 peti senapan dari Pulau Pinang.

Malangnya, pada 31 Maret 1873 Pemerintah Inggris di Singapura mengeluarkan larangan mengekspor senjata dan mesiu dari pelabuhan mana pun di lingkungannya ke Aceh. Aceh pun mengadakan penggalangan dana untuk menghadapi pecahnya peperangan. Pada 10 Maret 1873 sekalian anak cucu keluarga Sultan Alaudin Jamalul Alam Badrul Munir Al-Jamalullail menyumbang 12 kilogram emas untuk biaya peperangan.

Pada 7 Maret 1873, dengan kapal perang Citadel Van Antwerpen dan diiringi kapal Siak, Nieuwenhuyzen berangkat dari Betawi melalui Singapura. Pada 19 Maret 1873 bertolak dari Pulau Pinang dengan tambahan dua kapal perang, Marnix dan Coehoornl, dan tiba di Aceh pada 22 Maret 1873. Hari itu juga Nieuwenhuyzen menyampaikan permintaan Pemerintah Hindia Belanda kepada Sultan Aceh untuk mem-berikan penjelasan tertulis kepada Belanda mengenai hal ikhwal kerjasama Aceh dengan wakil negeri asing di Singapura untuk meminta bantuan melawan Belanda.

Belanda menganggap hal ini sebagai pelanggaran perjanjian tahun 1857 tentang perdamaian, persahabatan, dan perniagaan antara kerajaan Aceh dengan Belanda. Karena penjelasan Sultan tidak memuaskan Belanda, Nieuwenhuyzen mengultimatum untuk mengambil tindakan yang tepat dan meminta Kerajaan Aceh mengakui kedaulatan Belanda. Namun, Sultan Aceh menolaknya. Oleh karena itu, Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang kepada Kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873.

Pada 5 April 1873, Belanda berlabuh di perairan Aceh dengan enam kapal uap, dua kapal Angkatan Laut, lima kapal barkas, delapan kapal peronda, sebuah kapal komando, enam kapal pengangkut, dan lima kapal layar. Pada 8 April pasukan-nya mendarat di pantai Kuta Pantai Ceureumen, timur Ulee Lheue Banda Aceh dengan kekuatan 168 perwira dan 3.198 pasukan di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R. Kohler. Perang yang terlama dalam sejarah Nusantara mulai membuka riwayatnya.

Setelah beberapa hari peperangan berlangsung, Belanda dapat menguasai Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, tetapi kemudian karena tekanan-tekanan pasukan Aceh terpaksa mereka tinggalkan. Pada 14 April 1873, Belanda menguasai kembali masjid ini. Dalam pertempuran-pertempuran ini pasukan Aceh senantiasa mengumandangkan kalimah La ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah. Pasukan Aceh ada yang bertempur dolam kumpulan kecil yang terpisah-pisah dan ada yang bergabung dalam pasukan besar yang dipimpin oleh para ulee balang.

Salah seorang pemimpin pasukan Aceh adalah Teungku Imum Lueng Bata. Pada saat itu, Jenderal Kohler tewas dihantam peluru pejuang Aceh. Belanda tidak dapat menguasai Dalam atau kraton. Mereka dipukul mundur dengan kekalahan 45 orang mati yang delapan diantaranya adalah opsir dan 405 luka-luka yang 23 diantaranya opsir, Tiga hari setelah Kohler gugur, Belanda mengundurkan diri ke pantai dan membongkar sauh meninggalkan pantai Aceh pada 29 April 1873.
Penulis: Syarifudin Tippe
Aceh di Persimpangan Jalan