Rangkuman Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia
Agresi Pertama Gagal
Pemerintah Hindia Belanda segera mengirimkan Angkatan Laut dan Angkatan Darat untuk penyerangan kedua guna menebus kekalahan pertama. Selama mengadakan persiapan, Belanda mengadakan blokade terhadap pantai Aceh dengan Angkatan Laut untuk menghalangi Aceh berhubungan dengan negara luar. Menghadapi situasi seperti ini, sebuah dewan yang terdiri dari delapan orang untuk mewakili kepentingan-kepentingan Aceh ke luar dibentuk di Penang, Malaysia. Dewan ini meng-usahakan perbekalan perang dengan menembus blokade Belanda serta mengadakan hubungan agar di tempat-tempat lain di Nusantara juga ada perlawanan terhadap Belanda.Anggota-anggota Dewan ini terdiri dari empat bangsawan, yaitu Tengku (baca Teuku) Ibrahim, Nyak Rayek, Haji Panglima Perang Yusuf Nyak Abu, dan dua orang Arab kelahiran Penang, yaitu Syaikh Ahmad dan Syaikh Kasim, serta dua orang Keling kelahiran Penang, yaitu Umar dan 011ah Meidin. Sementara itu, Pemerintah Hindia Belanda memper-siapkan agresi kedua pada November 1873. Belanda mengi-rimkan Angkatan Laut dan Angkatan Darat dari Pulau Jawa yang berkekuatan dua kali lipat dibandingkan dengan agresi pertama.
Angkatan ini terdiri dari 18 kapal perang uap, tujuh kapal uap angkatan laut, 12 barkas, dan dua kapal peronda yang dipersenjatai. Selain itu ada 22 kapal pengangkut dengan alat-alat pend'arat yang terdiri dari enam barkas uap, dua rakit besi, dua rakit kayu, ditambah 80 sekoci. Angkatan perang ini dipimpin oleh Letnan Jenderal J. van Swieten, seorang pen-siunan Panglima Hindia Belanda yang diaktifkan kembali. Ia berangkat dari Den Haag pada 16 Juli 1873 dan pada 24 Agustus 1873 tiba di Betawi. Ia dibantu oleh Mayor Jenderal G.M. Verspijck.
Belanda mulai mengadakan agresi kedua terhadap Kerajaan Aceh pada 9 Desember 1873 dengan mendaratkan pasukannya di kampung Leu'u Kuala Gigieng Aceh Besar. Kesetiaan raja-raja dan rakyat kepada Sultan tetap besar. Pasukan-pasukan Aceh dipimpin oleh Tuanku Hasyim, yaitu salah seorang anggota keluarga Sultan yang berada di Sumatera Timur ketika agresi pertama Belanda. Ia dibantu oleh Teungku Imum Lueng Bata dan Teungku Nanta Setia. Setelah delapan hari mempertahankan pantai, mereka terpaksa mengundurkan diri. Tuanku Hasyim mengatur pertahanan Masjid Raya, memperl<ukuh kubu pertahanan di Peukan Aceh dan Lambhuek Aceh Besar, serta menyusun pertahanan istana (bahasa Aceh: Dalam). Menurut laporan intelijen (spion) Belanda, setelah Masjid Raya Banda Aceh dapat diduduki Belanda pada 6 Januari 1874, 3.000 pejuang Aceh yang bera,sal dari Mukim XXII mempertahankan garis perang yang dibuat oleh Panglima Polem yang mengambil kedudukan di Lampu'uk.
Dalam dijaga oleh sekitar 900 orang bersenjata. Raja Pidie datang ke Aceh Besar bersama 500 pasukan dan membuat kubu pertahanan di Lueng Bata Aceh Besar. Pada pertengahan Januari 1874, datang lagi 1.000 pejuang dari Peusangan Aceh Utara dengan mengambil kedudukan di Kuala Cangkoi. Teungku Imum Muda, Raja Teunom juga mengambil bagian menghadapi Belanda. la mengerahkan sekitar 800 pasukannya ke Kutaraja dan sejumlah besar amunisi bedil.
![]() |
| Rangkuman Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia |
Namun, pihak Aceh mengklaim jatuhnya Dalam ke tangan Belanda karena pengkhianatan penduduk Meuraxa Aceh Besar dan wabah kolera. Setelah Dalam jatuh pada 24 Januari 1874, Belanda menghentikan agresinya dengan harapan tercapainya persetujuan semacam Traktat Siak dengan Sultan Aceh. Namun pada 29 Januari 1874, Sultan Mahmud Syah mangkat di Pagar Ayer Aceh Besar karena kolera dan dimakamkan di Cot Bada Aceh Besar. Perlawanan terhadap Belanda tetap berlanjut.
Penulis: Syarifudin Tippe
Aceh di Persimpangan Jalan
