Belanda Ingin Sekali Menguasai Sebagian Kecil Aceh Besar

Belanda Ingin Sekali Menguasai Sebagian Kecil Aceh Besar


Perlawanan Rakyat 

Meskipun yang dikuasai Belanda hanya Dalam, pada 31 Januari 1874 van Swieten memproklamirkan Kerajaan Aceh sudah ditaklukkan dan Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan Sultan dan menempatkan daerah Aceh Besar menjadi miliknya. ,Belanda mengusahakan agar daerah-daerah di luar Aceh Besar mengakui kedaulatannya.

Jika tidak mau dengan cara damai, maka ditempuh cara kekerasan. Van Swieten kembali ke Betawi pada 16 April 1874 dengan menewaskan 28 opsirnya dan 1.024 pasukan serta 52 opsir dan 1.181 pasukan lainnya diungsikan. Belanda menyangka bahwa dengan menguasai Dalam, sebagian kecil Aceh Besar, dan dengan secarik kertas proklamasi sudah nyambuat Aceh bertekuk lutut. Yang terjadi justru perlawanan Aceh bertambah kuat. Raja Teunom kembali ke tempatnya di Aceh Barat karena banyak pasukan yang syahid dan luka-luka.

Demikian juga Raja Panteraja dari Pidie kembali ke daerahnya bersama 500 pasukan. Pejuang Aceh sama sekali tidak merasa kalah, bahkan kebencian pada Belanda yang "kafir" semakin menggelora. Pada 18 April 1874, Bangta Muda Tuanku Hasyim bin Tuanku Kadir, Panglima Polem Sri Muda Perkasa, Sri Imam Muda Teuku Panglima Duapuluh Enam Mukim, Sri Setia Aceh, Berawal dari Sejarah Ulama, menulis surat kepada Raja Geudong di Pasai. Mereka limln di tnengatakan bahwa ulama, haji, dan sekalian museu  Aceh Besar telah semufakat melawan Belanda dengan sekuat enaga.

Antara lain ditegaskan,

"Insya Allah Ta'ala tiadalah ubah kepada Allah dan Rasul melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyira pun melawan juga".

 Panglima Polem juga menyerukan kepada ulee balang-dee balang dan anak negerinya di Sagoe Mukim XXII untuk inengerahkan segala daya dan tenaga selama masih ada iman pada Allah dan Nabi Muhammad guna memerangi Belarida. Setelah melihat bahwa Dalarn akan terus diduduki Kelanda, Teungku Imum Lueng Bata dan Teungku Chik amnga berusaha menaklukkan Meuraxa.

Dengan pasukan yang serba putih, mereka membakar lebih 250 rumah di Meuraxa. Namun, mereka dapat dipukul mundur oleh Belanda. Kekalahan ini tidak menyebabkan mereka berputus asa. Pada cluni dan Agustus 1874, mereka mendirikan benteng-benteng cli sekitar kawasan yang diduduki Belanda. Dengan bantuan empat ribu pasukan yang datang dari ureudu dan , Peusangan, mereka kembali mencoba menaklukkan Meuraxa. Namun, keberanian dan kegigihan tidaklah memadai. Kurangnya perbekalan dan peralatan serta tidak adanya kerja sama menyebabkan pejuang Aceh mengalami kepagalan Sementara itu struktur kesultanan Aceh tradisional juga tidaklah membaur, apalagi setelah wafatnya Sultan dan jatuhnya Dalam.
Belanda Ingin Sekali Menguasai Sebagian Kecil Aceh Besar
Simbol dari pusat kekuasaan telah hilang. Hal ini menimbulkan keragaman sikap dan perbuatan dari negeri-negeri yang dipimpin ulee balang dalam menghadapi krisis yang ditimbulkan agresi. Maka, di samping negeri-negeri yang turut melawan Belanda terdapat juga yang mengangkat bendera Belanda dengan maksud dapat menjalankan ekspor impor, tanpa gangguan. Ada pula di antara negeri-negeri yang bela-kangan ini menggunakan setiap kesempatan untuk merdbantu perbekalan pihak muslimin secara diam-diam.
Sementara itu Pemerintah Hindia Belanda menyetujui usul J.L.J.H Pel yang menggantikan van Swieten untuk menduduki daerah Krueng Raba di pantai Utara Sagoe Mukim XXV Aceh Besar. Tujuan pendirian pos ini untuk memutuskan hubungan Aceh dengan jalur laut.

Dengan demikian, politik Aceh terhadap dunia luar akan lenyap, sedangkan bidang perniagaan tergantung kepada Belanda. Jenderal Pel berusaha mendapatkan lokasi yang baik sebagai tempat transit bagi perdagangan antara Sumatera Utara dengan Semenanjung Tanah Melayu dan sebagai tempat penimbunan hasil bumi dan barang-barang keperluan daerah sekitarnya dalam jalur dagang dengan Eropa. Setelah menerima bantuan dari Jawa, maka pada-Desember 1875 - Januari 1876, Belanda melancarkan serang-an terhadap Aceh. Barisan muslimin gagal mempertahankan Sagoe Mukim XXII dan daratan sebelah Timur Sungai (krueng) Aceh. Meski demikian, mereka menimbulkan kerugian besar pada Belanda. Blokade Belanda tidak seluruhnya dapat mencapai sasaran. Pada periode ini tidak diperoleh data mengenai kerugian z yang diderita oleh pihak Aceh. Pada tahun 1873-1874, Belanda mengeluarkan biaya peperangan sebanyak 16,5 juta florin.
Penulis: Syarifudin Tippe
Aceh di Persimpangan Jalan